Yo watsap. Gue kembali lagi dengan kegajean-kegajean ala pengangguran yang tak ada kerjaan. *tsaaa* *tembaked*
Dan, yah bener, gue masih nganggur. Menjaga rumah (baca:
ngaso), meditasi (baca: diem) di depan TV, yoga (baca: goleran) di tempat
tidur, dan sekali-kali menoleh ke dunia luar dengan pemantau bernama Op*ra mini
dari HP (baca: internetan)…
Entah kemana semua pikiran gue yang ala pemudi SMA
desperet yang selalu bilang, “GUE MAU LIBUR YANG PANJAAAAAAANGG BANGET!” sambil
menengadah ke langit seolah minta ke Yang di Atas dengan cara yang agak tidak
sopan. Emang, seperti kata orang-orang, semua gak bakal tau kalo gak dilakuin
dulu. Dan emang, gue gak pernah tau gue bakal ngerasa bosen dengan libur panjang
dan menjadi pengangguran hampir selama 3 bulan… 3 BULAN CHOI WAW EMEJING. Bagai
daging di percobaan asal usul kehidupannya Redi, gue bakal mengalami
pembusukkan dan dihinggapi lalat yang telurnya akan menetas melahirkan individu
baru…
*sigh*
Eniwei, kemaren malem gue baca sebuah cerita fanfiction
sampe malem, judulnya Absurdities. Fandom Hetalia dengan tokoh utama fem!Indo
yang di kasih nama Annesia (tapi tetep juga ujung-ujungnya dipanggil Nesia). Ratenya
sih M, tapi sampe detik gue ngetik post ini, belom ada adegan immoral kecuali
kissing yang lumayan bikin gue deg-degan… *shot*
Awal ceritanya sih, lucu, kadar humornya masih lebih
ditonjolin, khas adegan-adegan anak-SMA-koplak dengan semua bumbu-bumbu MOS,
dikerjai senior ngeselin, ketemu cowok yang akhirnya jadi crush, dan lain-lain.
Setelah masuk chapter 19…
Mulai masuk ke tingkat galau menengah, tapi masih ada
sedikit humor yang kesisip di akhir-akhir. Jadi lumayan bikin hati gue yang
mulai ngedown keangkat lagi moodnya.
EH PAS UDAH CHAPTER 20…
Ini yang ngeselin.
Dan, Ya Tuhan, gue beneran nangis pas baca chapter ini…
Ah ya, gue bikin warning aja deh, siapa tau ada yang mau
baca fanfic ini tanpa mau kesenangan bacanya diganggu…
-------------------WARNING: CONTAINS
SPOILERS--------------
Emang sih sebenernya adegan galau ini gak berlebihan. Si Nesia
ngeliat Antonio (iya, si Oyabun sekseh itu) nembak senior Bella (itu human
name-nya Belgium). Dan, tentu aja dong si Nesia sedih, karena dia pikir Antonio
sukanya sama dia karena masih keinget jaman pas mereka MOS yang disuruh
mesra-mesraan sama senior Arthur (ini si Iggy. Gak kenal? Itu, yang alisnya
tebel… *dilempar Arthur dari Jembatan Golden*). Tapi nyatanya, senior Bella
malah nolak si Antonio, dan itu membuat Nesia nangis.
Coretsialnyacoret bagusnya, si author mendeskripsikan
perasaan Nesia dengan baik…
Saking baiknya gue sampe mewek.
Karena apa, kalian tanya?
Yah, gue rasa gue bisa kan curcol di post ini? Ah, sebodo
lah.
Terus terang, gue pernah mengalaminya. Sama kayak si
Nesia, gue gak tau kenapa harus nangis pas gue tau orang yang waktu itu gue…
err… suka… putus sama pacarnya. Malah waktu itu, temen gue yang gue curhatin
(dan gue inget, gue mewek juga pas sesi curhat itu.) heran, karena harusnya gue
seneng dong dia putus, jadi gue masih ada kesempatan buat dapetin dia. Bahkan temen
gue tuh bilangnya gini, “Pas dia jadian, lu nangis, pas dia putus, lu juga
nangis.”…
And honestly, I don’t know either.
Air mata gue cuma tumpah gitu aja, gak ke control. Entah perasaan
gue seneng, sedih, kecewa, atau marah, semuanya campur jadi satu.
Dan fanfic ini mendeskripsikan apa yang gue rasakan waktu
itu. Sama persis…
“Tetapi mengapa? Mengapa ia terluka
jika mendapati bahwa pemuda itu ternyata, tidak sedang bersama dengan perempuan
lain? Mengapa ia harus menangis sedih justru ketika mendapati bahwa ia masih
memiliki kesempatan? Mengapa ia harus kecewa justru ketika mendapati bahwa
tidak ada satu gadispun yang memiliki pemuda yang dicintainya?
Mengapa ia menangis?”
Saat baca paragraph itu, perasaan sakit di hati gue makin
menjadi. Seakan luka lama yang dulu gue jait dengan rapih, kebuka sendiri
dengan nistanya.
Dan gue cuma bisa terdiam dan berkata, “FUUUUUUUU!!!”
diam-diam dalam hati. Dalam pikir gue, ‘Siaolan ni fanfic bikin galau aja
DAMEEEEEET!!’, dan banyak juga kata-kata makian lainnya yang kontras dengan mata
gue yang gak berenti-berentinya nangis.
Setelah abis chapter 20, gue lanjut ke chapter 21 yang OH
PUJI TUHAN tidak ada contain galaunya. Si author hebat sekali, dia bisa
menyembuhkan hati-hati galau yang tersakiti setelah baca chapter 20 dengan
humor-humor koplak di chapter 21.
Namun di chapter 22… gue kembali melantun, “DAMEEEETT!!”
Kembali lagi ke suasana galau yang mencekam. Ini maksimal
banget galaunya, kempred…
Walaupun dengan bangga gue bilang gue gak pernah ngalamin
yang semacam ini, tapi, Ya Tuhan, gue bisa merasakan perasaan si Nesia.
Dan kini gue teriak, “ALHAMDULILLAH, GUE BUKAN NESIA!”
Karena, kalian harus tau, di chapter 22 ini, si Antonio
tiba-tiba dateng ke rumahnya Nesia dan, out of the blue, curhat tentang senior
Bella.
Kerasa banget perasaannya si Nesia, DAN juga Antonio. Gimana
si Antonio sangat mencintai senior Bella yang keliatan dari bertahannya
perasaan cinta itu selama 4 tahun (4 TAON CHOY, GILA, KAYAK SIAPA YA? *di
tempeleng Alter Ego sendiri*) dan juga betapa sakitnya hati si Nesia mengetahui
bahwa orang yang dicintainya rapuh dan sakit karena perasaan cintanya sendiri.
Dan apa kalian tau, bagian ternyesek di scene ini ada
pada kalimat-kalimat ini:
“Mungkin Nesia tidak akan pernah tahu,
sesakit apakah perasaan Antonio sekarang ini. Karena simpel saja, Nesia tidak
mencintai Antonio selama nyaris empat tahun dan melakukan segala cara untuk
bertemu dengan yang terkasih. Mungkin Nesia juga tak akan pernah bisa
membayangkan bagaimana jika dirinya yang berada pada posisi Antonio.
Hanya satu yang Nesia tahu, rasa
terluka yang ia rasakan juga tidak bisa dibilang ringan. Berat. Sakit.
Tak terkira.
Sekalipun perasaan ini tumbuh belum
begitu lama.
Seterusnya, Nesia berusaha sebisa
mungkin menahan air matanya. Menahan perasaannya.
Menahan ironisnya kenyataan yang ada:
kenapa Antonio tetap memandang pada Senior Bella sedangkan disini, tepat di
hadapan Antonio sekarang, adalah Nesia.
Dengan cintanya.
Dengan kasih tulusnya.
Mungkin tidak selama dengan perasaan
Antonio terhadap Senior Bella.
Akan tetapi, andai saja pemuda itu
memberi kesempatan, Nesia berjanji untuk mempertahankannya. Menjaganya.
Andai saja…”
Ya Tuhan, kalo gue jadi Nesia, gue bakal pura-pura mati.
*shot*
Diujung scene galau tersebut, ada kalimat yang bikin gue
terenyuh…
“Terkadang,
menangis bisa menjadi pilihan terbaik—sekalipun tidak cukup untuk menyembuhkan
luka.”
And I just go, “FUUUUUUU!!”
Gue berkali-kali menangis waktu itu. Dan mungkin itu hal
bodoh yang suatu saat bakal gue ketawain sendiri, cuma karena a goddamn
feelings for him. Inget sedikit, nangis, inget sedikit, nangis. And it’s not
enough, gue ngerasain itu. Airmata yang keluar cuma alat, layaknya punya sendok
sama garpu, tapi percuma aja kalo gak ada makanannya, kan? Karena tetep aja
perasaan suka dan sakit hati gue ke dia ngendap dalem dada, lama kelamaan
menumpuk dan menggunung kayak sampah di TPA…
Gue bisa aja memaki-maki fic galau ini sambil melakukan
gaya ‘Demi TU-HAAAAAANNN’-nya Arya *piiiiiiip* kalau itu terkesan gak lebay.
Lalu ada juga kalimat di scene berikutnya yang membuat
gue terenyuh sekali lagi,
“Namun ia tahu pula, sebanyak apapun air mata,
tak akan mampu menenangkan hatinya. Tak akan menyembuhkan lukanya.
Dan air mata itu, tak akan mampu
membuat Antonio mencintainya.
Tidak akan.”
Dengan segala perasaan yang tumpah karena over capacity, dan juga airmata yang keluar karena gak tau harus ngapain, itu emang gak ngebuat dia suka sama gue. Karena gue menangis sendiri, di pojok ruang yang gelap, jauh dari dia. He have no idea kalo gue menangis untuknya, mengulang pertanyaan ‘kenapa?’ yang selalu numpuk di pikiran gue waktu itu.
Mungkin, kalaupun dia tahu, dia gak bakal ngapa-ngapain. Karena
dia gak tau harus ngapain. Karena dia gak bakalan suka sama gue. Karena dia cuma
melihat kesatu arah yang sama: ke dia.
Dem it.
Lanjut ke chapter 23, suasana makin memanas.
Dimana scene si Lovino (itu, si Romano) ngehajar Antonio
yang gak peka akan perasaan Nesia.
Gue langsung ngerasa… uhukiriuhuk.
Kini rengganglah persahabatan ketiga umat manusia tersebut.
Dan yang bikin gue menggumam ‘dem it’ lagi adalah scenen
dimana Nesia ngeliat Antonio jadi lebih akrab sama senior Bella. Itu pasti
rasanya… kayak ditusuk-tusuk jarum, cekit cekiiiit, cekit cekiiiit. *shot*
Dan lagi-lagi, terima kasih author yang baik, saya jadi
flashback lagi karena potongan scene ini:
“Ya. Sekalipun telah lama sejak
terakhir kali mereka saling berbicara, akan tetapi perasaan ini masih ada.
Semakin kuat dan terasa. Semakin
sakit. Semakin rindu…
Orang bilang bahwa 'Cinta adalah
ketika kita bahagia melihat orang yang kita cintai bahagia, sekalipun tidak
bersama kita'. Ingin Nesia mempraktekkan pepatah klise namun populer di
kalangan mereka yang patah hati itu, tetapi sungguh, rasanya sulit.
Sulit sekali—bahkan tidak mungkin.
Perasaan ini tak bisa ia hilangkan
secepat ketika ia jatuh cinta kepadanya…
…tak peduli betapa Antonio tampak
begitu bahagia ketika terdapat Senior Bella di sampingnya.
Seperti sekarang.”
Dulu, perasaan ini juga ada dalem diri gue. Setelah dia
kembali sama pacarnya, gue sama persis seperti Nesia. Perasaan kangen untuk
ngobrol lagi sama dia (oh iya, gue sama dia gak pernah ngobrol lagi semenjak
dia TAU kalo gue suka sama dia. And thanks to someone yang MUNGKIN punya grudge
sama gue.), untuk ngedenger dia ngelawak di samping gue lagi. Karena yang
dibilang orang ‘cinta tak harus memiliki.’ itu AMAT SANGAT bullsit. Mungkin orang
yang membuat kalimat itu adalah orang yang gak pernah patah hati, jalan
jodohnya lancar terus. Karena waktu itu gue sempet pernah merutuki hal ini. Harusnya
gue bisa ngebuat dia bahagia dengan tangan gue sendiri, bukan lewat tangan dia. Harusnya gue yang ada buat dia, bukan
dia. Harusnya dia bisa tertawa sama
gue karena (dalam kasus gue) gue udah mengenal dia lebih lama dibanding dia.
Oh bahkan gue tau betapa adilnya hidup ini…
Dan ada kalimat ini:
“Tetapi
salahkah jika ia merasa cemburu? Salahkah jika ia merasa sakit hati dan sedikit
benci? Sekalipun tak ada yang patut disalahkan dari semua ini?”
Xiaolan…
“Ia tahu ia kejam—egois. Tetapi siapakah yang
bisa menyalahkan perasaan?"
That’s it. Itu mewakili semua.
Emang waktu itu gue juga sempet ngerasa kayak gue di maki
Alter Ego gue sendiri, ‘EMANG LU SIAPANYA DIA?’. And that so damn fuuu.
Itu konklusi yang tepat sasaran.
Semua berawal dari perasaan. Sekarang gue mulai ngerasa
kalau this things called feelings ini lebih bahaya dari virus. Tanpa kontak
langsung atau apapun, perasaan saja sudah tumbuh, virus juga begitu. Tapi yah,
sama-sama sakit.
Dan, seperti yang pernah gue tweet kemaren, this things
is got me. Gue tau ini semua MEMANG gak simple. Gak sesimple itu. Dan gue
bangga dengan semua pengorbanan yang pernah gue buat, karena itu ngebuat gue
ngerasa ‘lebih’. Semua perasaan, semua rasa sakit, semua airmata… karena gue
punya kesempatan untuk all out buat seseorang yang gue sukai.
Itu aja.
AND DAMEEEEET. Hanya dari satu judul fanfiction, curhatan gue jadi 1.7k
gini… ya ampun.
Udah ah, galau mulu.
Salam damai,
Calon Orang Sukses (AMIN)
No comments:
Post a Comment