Thursday, May 2, 2013

Galau di malam hari. (Cause: Fanfiction)


Yo watsap. Gue kembali lagi dengan kegajean-kegajean ala pengangguran yang tak ada kerjaan. *tsaaa* *tembaked*

Dan, yah bener, gue masih nganggur. Menjaga rumah (baca: ngaso), meditasi (baca: diem) di depan TV, yoga (baca: goleran) di tempat tidur, dan sekali-kali menoleh ke dunia luar dengan pemantau bernama Op*ra mini dari HP (baca: internetan)…

Entah kemana semua pikiran gue yang ala pemudi SMA desperet yang selalu bilang, “GUE MAU LIBUR YANG PANJAAAAAAANGG BANGET!” sambil menengadah ke langit seolah minta ke Yang di Atas dengan cara yang agak tidak sopan. Emang, seperti kata orang-orang, semua gak bakal tau kalo gak dilakuin dulu. Dan emang, gue gak pernah tau gue bakal ngerasa bosen dengan libur panjang dan menjadi pengangguran hampir selama 3 bulan… 3 BULAN CHOI WAW EMEJING. Bagai daging di percobaan asal usul kehidupannya Redi, gue bakal mengalami pembusukkan dan dihinggapi lalat yang telurnya akan menetas melahirkan individu baru…

*sigh*

Eniwei, kemaren malem gue baca sebuah cerita fanfiction sampe malem, judulnya Absurdities. Fandom Hetalia dengan tokoh utama fem!Indo yang di kasih nama Annesia (tapi tetep juga ujung-ujungnya dipanggil Nesia). Ratenya sih M, tapi sampe detik gue ngetik post ini, belom ada adegan immoral kecuali kissing yang lumayan bikin gue deg-degan… *shot*

Awal ceritanya sih, lucu, kadar humornya masih lebih ditonjolin, khas adegan-adegan anak-SMA-koplak dengan semua bumbu-bumbu MOS, dikerjai senior ngeselin, ketemu cowok yang akhirnya jadi crush, dan lain-lain.

Setelah masuk chapter 19

Mulai masuk ke tingkat galau menengah, tapi masih ada sedikit humor yang kesisip di akhir-akhir. Jadi lumayan bikin hati gue yang mulai ngedown keangkat lagi moodnya.

EH PAS UDAH CHAPTER 20

Ini yang ngeselin.

Dan, Ya Tuhan, gue beneran nangis pas baca chapter ini…

Ah ya, gue bikin warning aja deh, siapa tau ada yang mau baca fanfic ini tanpa mau kesenangan bacanya diganggu…


-------------------WARNING: CONTAINS SPOILERS--------------


Emang sih sebenernya adegan galau ini gak berlebihan. Si Nesia ngeliat Antonio (iya, si Oyabun sekseh itu) nembak senior Bella (itu human name-nya Belgium). Dan, tentu aja dong si Nesia sedih, karena dia pikir Antonio sukanya sama dia karena masih keinget jaman pas mereka MOS yang disuruh mesra-mesraan sama senior Arthur (ini si Iggy. Gak kenal? Itu, yang alisnya tebel… *dilempar Arthur dari Jembatan Golden*). Tapi nyatanya, senior Bella malah nolak si Antonio, dan itu membuat Nesia nangis.

Coretsialnyacoret bagusnya, si author mendeskripsikan perasaan Nesia dengan baik…

Saking baiknya gue sampe mewek.

Karena apa, kalian tanya?

Yah, gue rasa gue bisa kan curcol di post ini? Ah, sebodo lah.

Terus terang, gue pernah mengalaminya. Sama kayak si Nesia, gue gak tau kenapa harus nangis pas gue tau orang yang waktu itu gue… err… suka… putus sama pacarnya. Malah waktu itu, temen gue yang gue curhatin (dan gue inget, gue mewek juga pas sesi curhat itu.) heran, karena harusnya gue seneng dong dia putus, jadi gue masih ada kesempatan buat dapetin dia. Bahkan temen gue tuh bilangnya gini, “Pas dia jadian, lu nangis, pas dia putus, lu juga nangis.”…

And honestly, I don’t know either.

Air mata gue cuma tumpah gitu aja, gak ke control. Entah perasaan gue seneng, sedih, kecewa, atau marah, semuanya campur jadi satu.

Dan fanfic ini mendeskripsikan apa yang gue rasakan waktu itu. Sama persis…


“Tetapi mengapa? Mengapa ia terluka jika mendapati bahwa pemuda itu ternyata, tidak sedang bersama dengan perempuan lain? Mengapa ia harus menangis sedih justru ketika mendapati bahwa ia masih memiliki kesempatan? Mengapa ia harus kecewa justru ketika mendapati bahwa tidak ada satu gadispun yang memiliki pemuda yang dicintainya?
Mengapa ia menangis?”

Saat baca paragraph itu, perasaan sakit di hati gue makin menjadi. Seakan luka lama yang dulu gue jait dengan rapih, kebuka sendiri dengan nistanya.

Dan gue cuma bisa terdiam dan berkata, “FUUUUUUUU!!!” diam-diam dalam hati. Dalam pikir gue, ‘Siaolan ni fanfic bikin galau aja DAMEEEEEET!!’, dan banyak juga kata-kata makian lainnya yang kontras dengan mata gue yang gak berenti-berentinya nangis.

Setelah abis chapter 20, gue lanjut ke chapter 21 yang OH PUJI TUHAN tidak ada contain galaunya. Si author hebat sekali, dia bisa menyembuhkan hati-hati galau yang tersakiti setelah baca chapter 20 dengan humor-humor koplak di chapter 21.

Namun di chapter 22… gue kembali melantun, “DAMEEEETT!!

Kembali lagi ke suasana galau yang mencekam. Ini maksimal banget galaunya, kempred…

Walaupun dengan bangga gue bilang gue gak pernah ngalamin yang semacam ini, tapi, Ya Tuhan, gue bisa merasakan perasaan si Nesia.

Dan kini gue teriak, “ALHAMDULILLAH, GUE BUKAN NESIA!

Karena, kalian harus tau, di chapter 22 ini, si Antonio tiba-tiba dateng ke rumahnya Nesia dan, out of the blue, curhat tentang senior Bella.

Kerasa banget perasaannya si Nesia, DAN juga Antonio. Gimana si Antonio sangat mencintai senior Bella yang keliatan dari bertahannya perasaan cinta itu selama 4 tahun (4 TAON CHOY, GILA, KAYAK SIAPA YA? *di tempeleng Alter Ego sendiri*) dan juga betapa sakitnya hati si Nesia mengetahui bahwa orang yang dicintainya rapuh dan sakit karena perasaan cintanya sendiri.

Dan apa kalian tau, bagian ternyesek di scene ini ada pada kalimat-kalimat ini:

“Mungkin Nesia tidak akan pernah tahu, sesakit apakah perasaan Antonio sekarang ini. Karena simpel saja, Nesia tidak mencintai Antonio selama nyaris empat tahun dan melakukan segala cara untuk bertemu dengan yang terkasih. Mungkin Nesia juga tak akan pernah bisa membayangkan bagaimana jika dirinya yang berada pada posisi Antonio.

Hanya satu yang Nesia tahu, rasa terluka yang ia rasakan juga tidak bisa dibilang ringan. Berat. Sakit.

Tak terkira.

Sekalipun perasaan ini tumbuh belum begitu lama.

Seterusnya, Nesia berusaha sebisa mungkin menahan air matanya. Menahan perasaannya.

Menahan ironisnya kenyataan yang ada: kenapa Antonio tetap memandang pada Senior Bella sedangkan disini, tepat di hadapan Antonio sekarang, adalah Nesia.

Dengan cintanya.

Dengan kasih tulusnya.

Mungkin tidak selama dengan perasaan Antonio terhadap Senior Bella.

Akan tetapi, andai saja pemuda itu memberi kesempatan, Nesia berjanji untuk mempertahankannya. Menjaganya.

Andai saja…”


Ya Tuhan, kalo gue jadi Nesia, gue bakal pura-pura mati. *shot*

Diujung scene galau tersebut, ada kalimat yang bikin gue terenyuh…


“Terkadang, menangis bisa menjadi pilihan terbaik—sekalipun tidak cukup untuk menyembuhkan luka.”

And I just go, “FUUUUUUU!!

Gue berkali-kali menangis waktu itu. Dan mungkin itu hal bodoh yang suatu saat bakal gue ketawain sendiri, cuma karena a goddamn feelings for him. Inget sedikit, nangis, inget sedikit, nangis. And it’s not enough, gue ngerasain itu. Airmata yang keluar cuma alat, layaknya punya sendok sama garpu, tapi percuma aja kalo gak ada makanannya, kan? Karena tetep aja perasaan suka dan sakit hati gue ke dia ngendap dalem dada, lama kelamaan menumpuk dan menggunung kayak sampah di TPA…

Gue bisa aja memaki-maki fic galau ini sambil melakukan gaya ‘Demi TU-HAAAAAANNN’-nya Arya *piiiiiiip* kalau itu terkesan gak lebay.

Lalu ada juga kalimat di scene berikutnya yang membuat gue terenyuh sekali lagi,

 “Namun ia tahu pula, sebanyak apapun air mata, tak akan mampu menenangkan hatinya. Tak akan menyembuhkan lukanya.

Dan air mata itu, tak akan mampu membuat Antonio mencintainya.

Tidak akan.”

Dan gue kembali flashback.
Dengan segala perasaan yang tumpah karena over capacity, dan juga airmata yang keluar karena gak tau harus ngapain, itu emang gak ngebuat dia suka sama gue. Karena gue menangis sendiri, di pojok ruang yang gelap, jauh dari dia. He have no idea kalo gue menangis untuknya, mengulang pertanyaan ‘kenapa?’ yang selalu numpuk di pikiran gue waktu itu.

Mungkin, kalaupun dia tahu, dia gak bakal ngapa-ngapain. Karena dia gak tau harus ngapain. Karena dia gak bakalan suka sama gue. Karena dia cuma melihat kesatu arah yang sama: ke dia.

Dem it.

Lanjut ke chapter 23, suasana makin memanas.

Dimana scene si Lovino (itu, si Romano) ngehajar Antonio yang gak peka akan perasaan Nesia.

Gue langsung ngerasa… uhukiriuhuk.

Kini rengganglah persahabatan ketiga umat manusia tersebut.

Dan yang bikin gue menggumam ‘dem it’ lagi adalah scenen dimana Nesia ngeliat Antonio jadi lebih akrab sama senior Bella. Itu pasti rasanya… kayak ditusuk-tusuk jarum, cekit cekiiiit, cekit cekiiiit. *shot*

Dan lagi-lagi, terima kasih author yang baik, saya jadi flashback lagi karena potongan scene ini:

“Ya. Sekalipun telah lama sejak terakhir kali mereka saling berbicara, akan tetapi perasaan ini masih ada.

Semakin kuat dan terasa. Semakin sakit. Semakin rindu…

Orang bilang bahwa 'Cinta adalah ketika kita bahagia melihat orang yang kita cintai bahagia, sekalipun tidak bersama kita'. Ingin Nesia mempraktekkan pepatah klise namun populer di kalangan mereka yang patah hati itu, tetapi sungguh, rasanya sulit.

Sulit sekali—bahkan tidak mungkin.

Perasaan ini tak bisa ia hilangkan secepat ketika ia jatuh cinta kepadanya…

…tak peduli betapa Antonio tampak begitu bahagia ketika terdapat Senior Bella di sampingnya.

Seperti sekarang.”

Dulu, perasaan ini juga ada dalem diri gue. Setelah dia kembali sama pacarnya, gue sama persis seperti Nesia. Perasaan kangen untuk ngobrol lagi sama dia (oh iya, gue sama dia gak pernah ngobrol lagi semenjak dia TAU kalo gue suka sama dia. And thanks to someone yang MUNGKIN punya grudge sama gue.), untuk ngedenger dia ngelawak di samping gue lagi. Karena yang dibilang orang ‘cinta tak harus memiliki.’ itu AMAT SANGAT bullsit. Mungkin orang yang membuat kalimat itu adalah orang yang gak pernah patah hati, jalan jodohnya lancar terus. Karena waktu itu gue sempet pernah merutuki hal ini. Harusnya gue bisa ngebuat dia bahagia dengan tangan gue sendiri, bukan lewat tangan dia. Harusnya gue yang ada buat dia, bukan dia. Harusnya dia bisa tertawa sama gue karena (dalam kasus gue) gue udah mengenal dia lebih lama dibanding dia.

Oh bahkan gue tau betapa adilnya hidup ini…

Dan ada kalimat ini:

“Tetapi salahkah jika ia merasa cemburu? Salahkah jika ia merasa sakit hati dan sedikit benci? Sekalipun tak ada yang patut disalahkan dari semua ini?”

Xiaolan…

 “Ia tahu ia kejam—egois. Tetapi siapakah yang bisa menyalahkan perasaan?"

That’s it. Itu mewakili semua.

Emang waktu itu gue juga sempet ngerasa kayak gue di maki Alter Ego gue sendiri, ‘EMANG LU SIAPANYA DIA?’. And that so damn fuuu.

Itu konklusi yang tepat sasaran.

Semua berawal dari perasaan. Sekarang gue mulai ngerasa kalau this things called feelings ini lebih bahaya dari virus. Tanpa kontak langsung atau apapun, perasaan saja sudah tumbuh, virus juga begitu. Tapi yah, sama-sama sakit.

Dan, seperti yang pernah gue tweet kemaren, this things is got me. Gue tau ini semua MEMANG gak simple. Gak sesimple itu. Dan gue bangga dengan semua pengorbanan yang pernah gue buat, karena itu ngebuat gue ngerasa ‘lebih’. Semua perasaan, semua rasa sakit, semua airmata… karena gue punya kesempatan untuk all out buat seseorang yang gue sukai.

Itu aja.

AND DAMEEEEET. Hanya dari satu judul fanfiction, curhatan gue jadi 1.7k gini… ya ampun.

Udah ah, galau mulu.


Salam damai,

Calon Orang Sukses (AMIN)

No comments:

Post a Comment